Selasa, 22 Desember 2015

ALGORITMA KEAMANAN PADA SISTEM OPERASI JARINGAN PART I

Kriptografi adalah ilmu dan seni untuk menjaga keamanan pesan. Kriptografi menyediakan aspek kerahasiaan (menjaga isi pesan dari siapapun yang tidak berhak mengakses), integritas data (menjamin pesan belum pernah dimanipulasi selama pengiriman), otentikasi (identifikasi kebenaran pihak yang berkomunikasi dan sumber pesan), dan nirpenyangkalan (mencegah pihak yang berkomunikasi melakukan penyangkalan). Semua aspek tersebut sangat diperlukan dalam hal keamanan data pada teknologi informasi. Mengingat aspek keamanan data merupakan hal yang penting dalam pertukaran informasi, maka perkembangan teknologi informasi juga berimbas pada meningkatnya kebutuhan atas algoritma dan teknik kriptografi yang handal.

DES (Data Encryption Standard) yang diumumkan oleh NIST (National Institute of Standards and Technology) pada tahun 1972 sebagai standard algoritma kriptografi sudah dianggap tidak aman lagi. Dengan menggunakan perangkat keras tertentu, kunci dari DES dapat dipecahkan hanya dalam waktu yang relatif singkat. Oleh karena itu, pada tahun 1997 NIST mengumumkan adanya pemilihan standar baru sebagai pengganti DES yang diberi nama AES (Advanced Encryption Standard).
Persyaratan yang ditentukan oleh NIST dalam pemilihan algoritma standar enkripsi, sebagai pengganti standar DES adalah sebagai berikut:
1. Merupakan algoritma kriptografi simetri chipher blok.
2. Seluruh rancangan algoritma harus publik (tidak dirahasiakan).
3. Panjang kunci fleksibel, yaitu sebesar 128 bit, 192 bit dan 256 bit.
4. Ukuran blok sebesar 128 bit.
5. Algoritma memungkinkan untuk diimplementasikan baik sebagai perangkat lunak maupun sebagai perangkat keras.
Ada lima algoritma yang ditetapkan sebagai standar enkripsi yang dipilih oleh NIST, kelima algoritma tersebut adalah:
1. MARS, dari tim IBM.
2. RC6, dari tim Laboratorium RSA.
3. Rijndael, dari tim Vincent Rijmen dan Joan Daemen.
4. Serpent, dari tim Ross Anderson, Eli Biham, dan Lars Knudsen.
5. Twofish, dari tim Bruce Schneie.

2. Algoritma Kriptografi Simetri Cipher Blok

Algoritma kriptografi akan disebut simetri apabila pasangan kunci untuk proses enkripsi dan dekripsinya sama. Algoritma enkripsi simetri inipun dibagi lagi menjadi dua kelas, yaitu block-cipher dan stream-cipher. Karena AES harus merupakan cipher blok, maka cipher stream tidak akan dibahas pada makalah ini.
Pada algoritma kriptografi simetri cipher blok, rangkaian bit-bit plainteks dibagi menjadi blok-blok bit dengan panjang sama. Enkripsi dilakukan terhadap blok bit plainteks menggunakan bit-bit kunci (yang ukurannya sama dengan blok plainteks). Algoritma enkripsi menghasilkan blok cipherteks yang berukuran sama dengan blok plainteks. Dekripsi dilakukan dengan cara yang serupa seperti enkripsi.
Skema enkripsi dan dekripsi dengan cipher blok dapat dilihat pada Gambar 1. Fungsi E dan D dideskripsikan sendiri oleh kriptografer.


Gambar 1 Skema Enkripsi dan Dekripsi dengan Cipher Blok

  

1.  Teknik Kriptografi yang Digunakan pada Chiper Blok

Algoritma blok cipher menggabungkan beberapa teknik klasik dalam proses enkripsi. Teknik kriptografi yang digunakan adalah:

a.  Substitusi
Teknik ini mengganti satu atau sekumpulan bit pada blok plainteks menjadi cipherteks tanpa mengubah urutannya.

b.  Transposisi atau Permutasi
Teknik ini memindahkan posisi bit pada blok plainteks untuk ditempatkan pada blok cipherteks berdasarkan aturan tertentu.

c.  Ekspansi
Teknik ini memperbanyak jumlah bit pada blok plainteks berdasarkan aturan tertentu, biasanya dinyatakan dengan tabel.

d.  Kompresi
Teknik ini kebalikan dari ekspansi, di mana jumlah bit pada blok plainteks dikompresi (diperkecil) berdasarkan aturan tertentu.

2.  Mode Operasi Cipher Blok

Plainteks dibagi menjadi beberapa blok dengan panjang tetap. Beberapa mode operasi dapat diterapkan untuk melakukan enkripsi terhadap keseluruhan blok plainteks. Empat mode operasi yang lazim diterapkan pada sistem
blok cipher adalah:

a.  Electronic Code Book (ECB)
Pada mode ini, setiap blok plainteks Pi dienkripsi secara individual dan independen menjadi blok cipherteks Ci. Secara matematis, enkripsi dengan mode ECB dinyatakan sebagai Ci = Ek(Pi) dan dekripsi sebagai Pi = Dk(Ci), yang dalam  hal ini, Pi dan Ci masingmasing blok plainteks dan cipherteks ke-I Skema enkripsi dengan mode ECB dapat dilihat dilihat pada Gambar 2.


Gambar 2 Skema Enkripsi dengan Mode ECB


b. Cipher Block Chaining (CBC)
Mode ini menerapkan mekanisme umpan balik (feedback) pada sebuah blok, yang dalam hal ini hasil enkripsi blok sebelumnya diumpanbalikkan ke dalam enkripsi blok yang current. Secara matematis, enkripsi dengan mode CBC dinyatakan sebagai Ci = Ek(P1 Ci−1) dan dekripsi sebagai Pi = Dk(Ci) Ci-1 Yang dalam hal ini, C0 = IV (initialization vector). IV dapat diberikan oleh pengguna atau dibangkitkan secara acak oleh program. Skema enkripsi dengan mode CBC dapat dilihat pada Gambar 3.



Gambar 3 Skema Enkripsi dengan Mode CBC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar